Sejarah Masjid Agung Al-Barkah, Masjid Tertua di Kota Bekasi

Masjid Agung Al-Barkah (Foto: Istimewa)

Lintasbekasi.com – Sebagai salah satu daerah yang disinggahi para penjajah, tentunya Bekasi memiliki sejumlah bangunan bersejarah yang mengandung nilai-nilai perjuangan tinggi. Diantaranya yaitu, Masjid Agung Al-Barkah yang terletak di Jalan Veteran Nomor 46, Marga Jaya, Bekasi Selatan, Kota Bekasi.

Sejarah

Masjid yang menjadi ikon Kota Bekasi ini, termasuk sebagai salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid agung dibangun pada tahun 1890 dipelopori (Alm) H. Abd.Hamid penghulu Lanraad saat itu. Masjid tersebut dibangun di atas tanah wakaf seluas 3370m² milik warga setempat, (Alm) Bapak Bachroem.

Dahulu, Masjid agung menjadi tempat para tokoh pejuang beribadah sekaligus bermusyawarah untuk mengatur strategi bagaimana menghadapi para penjajah pada saat itu.

Masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi pertamanya dilakukan pada Tahun 1967. Bangunannya dirombak total menjadi bentuk masjid oleh Bupati Bekasi Bapak MS. Subandi (ketika itu kota Bekasi masih menjadi bagian dari Kabupaten Bekasi).

Bahkan bapak MS. Subandi turut melibatkan setiap jiwa warga Kabupaten Bekasi untuk berpartisipasi dalam pembangunan masjid dengan menyumbang Rp5,-

Lalu pada 1985, dengan kemajuan yang terjadi di Bekasi, kembali dilakukan pembangunan oleh Bupati Bekasi H. Abdul Fatah. Pada bagian depan bangunannya menggunakan awning berwarna-warni yang saat itu sangat diminati banyak masyarakat dalam setiap melakukan pembangunan. Pada tahun ini pula, masjid tersebut ditetapkan menjadi Masjid Agung Al Barkah Bekasi.

Baca juga: Ini Bangunan Bersejarah di Bekasi yang Harus Kalian Tahu

Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi ikut campur tangan dalam pembangunannya, semenjak ditetapkannya sebagai Masjid Agung. Pembangunan pada tahun 1985 menghabiskan biaya sebesar Rp225 juta.

Pada 1997 Pemerintah Kabupaten Bekasi kembali melakukan pembangunan dengan tambahan biaya Rp100 juta. Puncaknya dimulai pada tahun 2004 hingga 2008, renovasi dilaukan besar-besaran pada masa kepemimpinan Wali Kota Bekasi, Akhmad Zurfaih putra asli Bekasi.

Masjid dirancang lebih modern, namun tetap mencirikan arsitektur timur tengah. Ada keinginan dari Wali Kota saat itu untuk menghadirkan sebuah masjid yang representatif dan menjadi ikon kota Bekasi.

Arsitektur

Arsitektur masjid mengadaptasi masjid timur tengah yang disublimasi dengan unsur tropis. Masjid di timur tengah tidak mengenal teras atau kanopi, karena iklim Indonesia tropis, masjid membutuhkan kantilever dan kanopi agar air hujan tidak tempias ke dalam masjid makanya kemudian masjid ini dilengkapi dengan teras.

Arsitektur masjid tidak lepas dari simbolisasi Islam, setiap detil bangunan memiliki arti. Simbolisasi islam bisa kita jumpai pada 4 buah menara yang memiliki arti 4 tiang ilmu, yakni Bahasa Arab, syariah, sejarah dan filsafat. Serta syarat hidup bahagia yakni aqidah, ahlak, syariah dan ibadah.

Tiga bagian bentuk dasar bangunan menara mencerminkan iman, islam dan ikhsan. Sedangkan ketinggian menara 35 meter diambil dari salah satu surat Al-qur’an.

Penulis: Opik
Editor: Fazaky