Selasa, Januari 28, 2020

Winlie Bryan Fransischus, Pengamen Asal Bekasi Berdarah Campuran Jerman, Belanda dan India

Lika-liku Hidup Pengamen Bekasi Keturunan Jerman, Belanda dan India: Ganteng-ganteng Kok Ngamen, Mas?
Bryan, Pengamen di Bekasi yang berdarah Jerman, Belanda dan India (Foto: Tribunnews)

Lintasbekasi.com, Pondok Gede – Winlie Bryan Fransischus, itulah nama lengkapnya. Pria yang berdarah Jerman, Belanda dan India ini berprofesi sebagai pengamen ini memiliki paras rupawan juga suara yang merdu.

Ayahnya bernama Sabir merupakan keturunan asli India dan ibunya Yuli berdarah campuran Jerman dan Belanda.

Bryan merupakan anak sulung dari enam bersaudara. Kisahnya pun menarik mengapa ia bisa sampai jadi pengamen di Bekasi, Jawa Barat.

Menurut penuturannya, ayahnya merupakan pengusaha karpet yang memiliki kesuksesan hingga ke luar negeri.

Pada saat usia Bryan menginjak 6 tahun, ia beserta keluarganya pindah ke Brunei Darussalam hingga Bryan menginjak usia 21 tahun.

“Waktu di sana saya dimasukkan ke pesantren sama orang tua. Jadi mereka mengurus bisnis di sana,” ucapnya.

Baca juga: Seorang Pengendara Motor Tewas Terlindas Truk di Cikarang Selatan Bekasi

Namun, pada tahun 2014, Bryan merasa kehidupan rumah tangga kedua orang tuanya tidak harmonis lagi karena kehadiran orang ketiga. Bryan pun memutuskan nekat datang ke Jakarta dengan uang simpanannya.

“Lihat orang tua begitu saya enggak nyaman. Akhirnya datang ke Jakarta dan ikut teman aja,” sambungnya.

Bryan pun diajak rekannya yang ada di ibukota untuk bekerja di Bogor, Jawa Barat.

“Sampai di Bogor kerjanya di depo isi ulang gitu. Gajinya kecil saat itu cuma Rp 500 ribu perbulan,” ungkapnya.

Namun, Bryan tak betah dan memutuskan untuk mengamen dengan gitar kesayangannya.

“Sejak saat itu saya akhirnya hidup di jalan jadi pengamen hingga saat ini,” jelasnya.

Ia memantapkan profesi tersebut karena tidak suka dibawah tekanan dan aturan.

Ia pun tak menyesali karena tidak memiliki kendaraan dan Surat Izin Mengemudi (SIM), baginya mengamen sudah cukup baginya asalkan mandiri dan tidak mengandalkan orang tuanya.

“Ya saya mau kerja apalagi, jadi ojol pun enggak bisa karena motor dan SIM itu. Yang penting saat ini saya tak meminta uang sama orang tua, sekalipun saya tahu jika papa sudah di Jakarta dan mama sudah di Bekasi,” jelasnya.

Ia pun menuturkan pengalamannya menjadi pengamen selama enam tahun. Penghasilannya dari mengamen, ia bisa mengantongi Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu.

Tanggapan Warga

Jika masih banyak orang mengamen merupakan profesi rendahan, namun tanggapan yang didapat oleh Bryan berbeda. Bukan cemooh atau sindiran yang didapat, melainkan pujian.

“Ganteng-ganteng kok ngamen sih mas,” tutur Bryan mencontohkan.

Baca juga: Lebih dari Seminggu Pasca Banjir, Pemulihan Kondisi Lingkungan di Kemang IFI Terus Berlanjut

Penulis: Adnan
Editor: Adnan

Berita Terkini