Senin, September 23, 2019

Terjun ke Politik, Leo Yoseph Menebar Semangat Pengabdian

Foto: Leo Yoseph Caleg DPRD Kota Bekasi No 8 Dapil VI

LintasBekasi.com, Kota Bekasi – Sosoknya yang sederhana, menjadi daya tarik bagi orang untuk mengenal lebih dekat tentang dirinya. Begitulah kesan warga Kota Bekasi khususnya di Bekasi Barat dan Medan Satria. Caleg DPRD No. 8 Dapil VI dari PDIP, terlihat komunikatif, hangat dan optimis ketika berkunjung dan silaturahim dengan masyarakat.

Pria kelahiran Ngada, Flores NTT tepatnya 19 Maret 1962 ini, setelah melewati proses panjang, akhirnya berketetapan hati dan memutuskan kerja-kerja perjuangannya melalui jalur politik. Ia menilai, lewat politik apa yang menjadi idealismenya, bisa dituangkan menjadi nilai-nilai kebaikan dan kesejahteran publik.

Semasa mudanya, Leo Yoseph menghabiskan hampir seluruh waktunya di dunia aktifitas sosial pergerakan dan pendidikan. Seakan tidak banyak waktu untuk berleha-leha, ia manfaatkan sebanyak-banyaknya untuk mengenyam ilmu pengetahuan, baik dari sekolah maupun organisasi.

Baca juga:
BKSAG Medan Satria dan Bekasi Barat Makan Bersama dengan Leo Yoseph

Politik Melayani

Berbekal lebih dari 30 tahun mengabdi sebagai guru dan dosen. Jebolan Universitas Gajah Mada yang hobi bermain sepak bola dan masih aktif sebagai pelatih. Seperti ingin melakukan proses “dekonstruksi dan rekonstruksi” terhadap kinerja dan “stigma” nyinyir para legislator selama ini.

Masyarakat terlanjur apriori pada kiprah abdi negara yang sering bergelar orang terhormat itu. Selain sering gagal memperjuangkan aspirasi rakyat, anggota DPR baik dari pusat hingga kota kabupaten, dianggap sering terjebak masalah utamanya skandal korupsi. Banyak lagi Aroma tak sedap, kental menyelimuti eksistensi mitra eksekutif itu.

Menurut Leo Yoseph, anggota DPR selama ini belum berhasil mengemban amanat rakyat karena proses dan orientasi yang salah ketika mulai membangun kiprah politiknya.

Salah satunya, dalam kampanye sering seorang caleg terjebak pada pola transaksional dan pragmatis. Menggunakan kekuatan uang untuk mendulang suara. Sehingga kalaupun terpilih anggota dewan semacam itu telah menggeser fungsi utama pengabdian masyarakat menjadi kecenderungan bisnis dan komersil.

Proses dan tujuan politik dikalkulasi untuk untung dan rugi. Wajar, kalau saja marak pemimpin dan politisi, terjerat kasus korupsi. Lirih Leo Yoseph yang pernah aktif di OSIS semasa SMA, juga MENWA dan GMNI semasa kuliah.

Menjadi wakil rakyat itu adalah politik melayani masyarakat. Menjadikan kerja-kerja itu sebagai tujuan menyejahterakan masyarakat.

Bagi Leo Yoseph yang menjadi Kepala Sekolah dan Kepala HRD di sebuah yayasan pendidikan, menjadi anggota dewan haruslah mengalir seperti ilmu pengetahuan, menerima dan memberi. Bermanfaat untuk seluas-luasnya bagi khalayak. Kemudian, setiap perjuangan kita haruslah menjadi pengabdian tanpa titik akhir, pungkasnya.

Penulis: Abil
Editor: Abil

Berita Terkini